Pada zaman Nabi Musa as, terdapat seorang lelaki dalam kalangan Bani Israel yang telah dibunuh, tetapi pembunuhnya tidak diketahui. Apabila mereka mengadu tentang pembunuhan ini kepada Nabi Musa a.s., Allah s.w.t telah mewahyukan kepada Baginda supaya menyuruh mereka (Bani Israel) untuk menyembelih seekor sapi betina, kemudian memukul mayat dengan sebahagian anggota sapi tersebut. Dengan izin Allah, mayat yang mati dibunuh itu dapat hidup semula dan memberitahu mereka siapakah pembunuhnya. Mukjizat ini membuktikan betapa Allah s.w.t berkuasa menghidupkan semula makhluk walaupun sesudah mati.
Ketika Bani Israel diperintahkan untuk menyembelih sapi betina itu, al-Quran telah merakamkan bagaimana kedegilan golongan Bani Israel yang tidak mahu melaksanakan perintah Allah tersebut dengan mencari pelbagai alasan dan hujah. Namun, akhirnya mereka terpaksa juga melakukannya kerana tiada lagi hujah dan tipu daya yang dapat mereka bentangkan kepada nabi Musa.
Berkata mereka kepada Musa secara mengejek: "Apakah dengan cara yang engkau usulkan itu, engkau bermaksud hendak menjadikan kami bahan ejekan dan tertawaan orang? Akan tetapi kalau memang cara yang engkau usulkan itu adalah wahyu, maka cubalah tanya kepada Tuhanmu, sapi betina atau jantankah yang harus kami sembelih? Dan apakah sifat-sifatnya serta warna kulitnya agar kami tidak salah memilih sapi yang harus kami sembelih?"
Musa menjawab: "Menurut petunjuk Allah, yang harus disembelih itu ialah sapi betina berwarna kuning tua, belum pernah dipakai untuk membajak tanah atau mengairi tanaman tidak cacat dan tidak pula ada belangnya."
Kemudian dikirimkanlah orang ke pelusuk desa dan kampung-kampung mencari sapi yang dimaksudkan itu yang akhirnya diketemukannya pada seorang anak yatim piatu yang memiliki sapi itu sebagai satu-satunya harta peninggalan ayahnya serta menjadi satu-satunya sumber nafkah hidupnya. Ayah anak yatim itu adalah seorang fakir miskin yang soleh, ahli ibadah yang tekun yang pada saat mendekati waktu wafatnya, berdoalah kepada Allah memohon perlindungan bagi putera tunggalnya yang tidak dapat meninggalkan warisan apa-apa baginya selain seekor sapi itu. Maka berkat doa ayah yang soleh itu terjuallah sapi si anak itu dengan harga yang berlipat ganda karena memenuhi syarat dan sifat-sifat yang diisyaratkan oleh Musa untuk disembelih.
Diceritakan juga sebelum ibu si anak itu meninggal, telah disuruhnya anak itu menjual sapi itu dengan harga 3 dinar dan tidak dijual selain dari harga itu.
Lalu Allah S.W.T mengutus malaikat untuk menguji anak tersebut bagaimana baktinya kepada ibunya. Sesungguhnya, Allah S.W.T mengetahui hal tersebut.
Lalu malaikat bertanya, “Kamu jual sapi ini dengan harga berapa?”
Dia menjawab, “Tiga dinar. Dengan catatan ibuku meridhainya.”
Kemudian malaikat berkata, “Saya beli enam dinar. Tetapi engkau tidak perlu meminta persetujuan ibumu.”
Si anak itu berkata, “Seandainya engkau memberiku emas seberat sapi ini pun, saya tidak akan mengambilnya melainkan dengan ridha ibuku.”
Kemudian dia membawa pulang sapi kepada ibunya dan dia menceritakan tentang harganya.
Lalu si ibu berkata, “Pergila kamu menjual dengan harga enam dinar berdasarkan ridha dariku.’
Dia pun pergi semula ke pasar dan menemui malaikat. Malaikat bertanya, “Apakah engkau telah meminta persetujuan ibumu?”
Si anak itu menjawab, “Beliau menyuruhku agar tidak mengurangi harganya dari enam dinar dengan catatan saya meminta persetujuan ibu.”
Malaikat berkata, “Saya akan memberimu dua belas dinar.”
Pemuda itupun menolak, lalu kembali kepada ibunya dan menceritakan hal tersebut kepadanya.
Ibunya berkata, “Sungguh, orang yang mendatangimu adalah malaikat dalam bentuk manusia untuk mengujimu. Jika dia mendatangimu lagi, katakan padanya, ‘Apakah engkau memerintahkan kami untuk menjual sapi ini ataukah tidak?”
Pemuda itu pun melakukan hal tersebut, lalu malaikat berkata, “Kembalilah kepada ibumu. Dan tolong sampaikan padanya, ‘Biarkanlah sapi ini. Sungguh Nabi Musa bin Imran ‘alaihissalam akan membelinya untuk mengungkap korban pembunuhan seseorang di kalangan kaum Bani Israil. Janganlah engkau menjualnya kecuali dengan kepingan dinar yang memenuhi kulitnya. Oleh karena itu, tahan dulu sapi ini.’”
Sumber:
1. http://www.ustazshauqi.com/2008/05/rahsia-di-sebalik-surah-al-baqarah.html?m=1
2. http://sekadarfikrah.blogspot.com/2012/11/nabi-musa-as-11-sapi-bani-israil.html?m=1
3. http://kisahmuslim.com/kisah-al-baqarah-sapi-betina-di-zaman-nabi-musa/


Tiada ulasan:
Catat Ulasan